Rabu, 19 Agustus 2009

KELUARGA RASULULLAH.

JALAN CINTA ALHASAN WAL HUSAIN (JAWABAN UNTUK PERTANYAAN AKHI AHMAD YUSUF 0CTAMIDAKESRI)
Untuk anggota Kenapa Takut Bid'aH



Putra putri Rasulullah ada 7, 6 dari istri beliau yg pertama Sayidah Khadijah, dan 1 dari sahaya beliau, Mariah al Qibtiyah. Putra pertama Rasulullah adalah Sayyid Qasim,yg mana kemudian Rasulullah di kunyahi Abul Qasim, Sayid Qasim wafat pada usia 2 thn di makkah, kemudian yang ke 2 adalah Zainab, yang diperistri kemenakan Sayidah Khadijah, Abul Ash, mempunyai 2 Anak Ali (wafat balita) dan Umamah, putri ke 3 adalah Ruqayyah diperistri Sahabat Utsman bin Affan (wafat pada waktu perang badar tahun 2 H), putri ke 4 adalah Fatimah (wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah), putri ke 5 adalah Umi kaltsum (wafat tahun 9 H) juga diperisti Sahabat Utsman setelah wafatnya Sayidah Ruqayyah dan ke 6 adalah Sayid Abdullah, wafat usia balita. Adapun 1 dari yang dari sahaya beliau adalah Sayyid Ibrahim (lahir tahun 8 H dan wafat tahun 10 H, umurnya 16 bulan). Dari putra-putri beliau Yang menurunkan keturunan Hanyalah Sayidah Zainab dan Sayyidah Fatimah, Cucu Rasulullah yang bernama Umamah binti Zainab akhirnya pun di nikah oleh Sayyidina Ali selepas wafatnya Sayyidah Fatimah, tapi keturunanya tidak ada yang mencatat. Kesimpulanya, yang melestarikan nasab dan dzuriyyah Rasulullah hanyalah Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah yang melalui putra keduanya Sayid Hasan dan Sayid Husain. Lantas terjadi pengingkaran oleh sebagian kalangan bahwa keturunan dari Anak perempuan Itu tidak di anggap sebagai keturunan, karena budaya orang Arab adalah menisbatkan seseorang pada "rumpun" ayahnya, sehingga kalau ada yang berkata "saya dari keluarga Al- Fulani" maka artinya dia adalah keturunan si Fulan dengan garis laki-laki. pengingkaran ini sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena sangat bertentangan dalil-dalil Islam, baik dalil nash (teks) maupun dalil rasio sebagai berikut.
1 . Dalam Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 84, Allah menyebut beberapa Nabi keturunan Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa disebut sebagai salah satu dari mereka, maka ayat ini jelas menyimpulkan bahwa keturunan seorang perempuan juga termasuk "keturunan" atau cucu dari orang tua si perempuan. Karena Nabi Isa adalah keturunan seorang perempuan, dan Nabi Isa juga disebut sebagai Dzuriyah Nabi Ibrahim.
2. Dalam Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Humaid As-Sa'idi Rasulullah menyebut Ahlul-bayt dengan "dzurriyyah". Menurut bahasa Arab yang sebenarnya, dzurriyyah artinya "semua keturunan", baik yang bergaris laki-laki maupun perempuan. Untuk mengubah makna sebuah kalimat Rasulullah SAW dari arti sebenarnya harus ada dalil yang shahih, demikian pula untuk mengubah dari "yang umum" menjadi "kusus". Nah, selama tidak ada dalil shahih yang menyatakan bahwa dzurriyyah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam riwayat itu adalah khusus garis laki-laki, maka berarti semua keturunan beliau, baik dari garis laki-laki maupun perempuan, adalah Ahlul-bayt. Dan barang siapa yang membeda-bedakan antara yang bergaris laki-laki dan garis perempuan maka berarti ia telah "berkhianat" pada Rasulullah.
4. Pada waktu Putra terakhir Rasulullah dari Sayidah Khadijah yaitu Sayyid Abdullah wafat, berkatalah dedengkot Musyrikin makkah yaitu Al 'Ash bin Wa'il Assahmi : " Qod inqotho'a waladuhu fahuwa Abtar " telah terputus garis keturunanya dan dia (Muhammad) adalah orang yang Terputus (nasabnya). Hal itu langsung dibantah Oleh Allah dengan turunya Surat Al kautsar ayat 3, " Inna Syani'aka huwal abtar " sesungguhnya orang yang membencimu lah yang terputus. Ini membuktikan keturunan Rasulullah tidak terputus, dan membuktikan kedudukan Nasab dari garis laki-laki dan perempuan adalah sama, dan Rasulullah datang menentang budaya Arab yang hanya memperhitungkan keturunan laki-laki.
Dari Imam Hasan dan Imam Husain ibnani Fatimah binti Rasulullah inilah dzuriyah Rasulullah berkembang, sejarah mencatat pada permulaan dinasti Umayyah, kalangan Ahlul Bayt keturunan Imam Hasan dan Imam Husain di buru dan dibunuh oleh Khalifah yang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Muawiyah, hikmahnya, mereka berpencar ke seantero pelosok negeri, dari kalangan dzuriyah Imam Hasan sebagian mengasingkan diri ke Mesir, Maghribi, Syams dsb, dari kalangan Dzuriyah Imam Husain yang hanya meninggalkan satu putra ketika beliau syahid di karbala yaitu Assajad Ali Zainal Abidin, keturunanya tersebar di Bashrah, Kufah, Yordania, hingga akhirnya generasi berikutnya yang di pimpin Imam Ahmad bin Isa Arrumi bin Muhammad Annagib bin Ali Al Uraidli bin Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah Azzahra, Sayid Ahmad Almuhajir bin Isa Seorang yang SUNNI DAN BERMADZHAB SYAFI'I beliau Hijrah dari Bashrah Irak ke Hadhramaut Yaman karena adanya Fitnah Qaramithah sekte pecahan Syi'ah yang terkenal Kejam dan sadis. Dari Hadhramaut ini kemudian banyak yang menjadi pedagang antar negara, diantaranya Sayid Abdul Malik bin Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Kholi' Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad Annagib bin Ali Al Uraidli bin Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Azzahra', hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat India, di India Beliau menikah dengan Putri Raja dan berjuluk Azmatkhan, kemudian dari keturunan beliau ada yang berdagang ke Indonesia dan menjadi Pendakwah tangguh di Nusantara yang di kenal dengan walisongo. sumber:Jala'ul Afham Syarah Aqidatul Awam, Jalan Nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, Artikel Buya Hamka mengenai Kiprah dakwah Alawiyin

Izinkan Aku Membelamu Yaa Rasulullah..

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

Sabtu, 15 Agustus 2009

Selasa, 04 Agustus 2009

Senin, 29 Juni 2009

SELALU BERSHALAWAT.

Selalu bershalawat

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberinya rahmat kepadanya sepuluh kali."

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali ra di dalam kitabnya, Ihya, mengemukakan hadis dari Abdul Wahid bin Zaid yang menuturkan sebagai berikut:

Pada suatu hari, saya bersama seorang teman keluar meninggalkan rumah untuk suatu keperluan. Teman saya tidak henti-hentinya mengucapkan shalawat, baik di saat sedang berdiri, duduk, bergerak maupun diam. Ketika kutanyakan hal itu kepadanya, ia menjawab:

Anda saya beritahu soal itu. Dahulu saya bersama ayah pergi ke Makkah untuk pertama kali. Dalam perjalanan berangkat, saya ketiduran di suatu tempat. Dalam mimpi saya melihat seorang datang mendekatiku, lalu berkata, "Bangunlah, Allah telah mewafatkan ayahmu dalam keadaan wajahnya kehitam-hitaman. !" Saya bangun dalam keadaan takut dan bingung. Ayah kuhampiri dan kubuka kain penutup mukanya. Ternyata benar, ia telah menjadi mayit dan wajahnya tampak kehitam-hitaman. Saya sungguh ketakutan sekali.

Beberapa saat kemudian, dalam keadaan bingung dan sedih, saya tertidur kembali. Kali ini saya mimpi lagi melihat empat orang lelaki berkulit hitam, masing-masing memegang tongkat besi. Tiba-tiba datang seorang lelaki berwajah rupawan berpakaian warna hijau. Kepada orang-orang yang berkulit hitam itu ia berkata, "Menyingkirlah kalian semua!." Lelaki rupawan itu lalu mengusap-usap muka ayahku dengan tangannya, lalu mendekatiku seraya berkata, "Hai, bangunlah... Allah telah memutihkan muka ayahmu." Aku bertanya, "Anda siapa?." Ia menjawab, "Aku Muhammad."

Ketika bangun, saya segera menghampiri ayah dan kubuka kain penutup mukanya, dan ternyata wajahnya tampak keputih-putihan. Sejak itu saya tidak pernah meninggalkan shalawat kepada Rasulullah.

[Disarikan dari Mutiara Zikir & Doa, Al-Habib Alwi bin Ahmad Alhaddad, hal. 111, cetakan I, penerbit Pustaka Hidayah

QALAM ULAMA.

Mutiara syair Al-Imam Asy-Syafi'i

إن الفقـيه هو الفقـيه بفعـله <> ليس الفقـيه بنطـقه و مقاله
وكذا الرئيس هو الرئيس بخلقه <> ليس الرئيس بقومه و رجاله
وكذا الغـني هو الغـني بحاله <> ليس الغـني بملـكه و بماله

Sesungguhnya orang yang faqih (alim) itu adalah dinilai dengan perbuatannya
Bukanlah orang yang faqih itu dinilai dengan ucapan dan perkataannya

Begitu juga pemimpin itu adalah dinilai dengan kemuliaan akhlaknya
Bukanlah pemimpin itu dinilai dengan banyaknya massa dan pembela-pembelanya

Begitu juga orang yang kaya itu adalah dinilai dengan keadaan (kedermawanan) nya
Bukanlah orang yang kaya itu dinilai dengan banyaknya harta bendanya

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 97]

Mutiara syair Al-Imam Ali bin Abi Thalib


بكيت على شباب قد تولى <> فيا ليت الشــباب لنا يعـود
لو كان الشــباب يباع بيعا <> لأعطيت المــبايع ما يـريد
ولكن الشـباب إذا تــــولى <> على شـرف فمطلــبه بعـيد



Aku menangis atas masa mudaku yang telah berlalu
'duh alangkah enaknya kalo masa muda itu dapat kembali lagi kepada kita

Seandainya masa muda itu bisa diperjualbelikan
pasti 'ku kan berikan kepada penjualnya apapun yang ia inginkan

Akan tetapi jika masa muda itu sudah berlalu
jauh dari kemuliaan maka memintanya untuk kembali lagi adalah sesuatu yang mustahil


Mutiara syair Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad


عجبت لمن يوصي سواه و إنه <> لأجــدر مـنه باتـــباع الـوصــية
يقــول بلا فعـل و يعمل عاملا <> على ضد علم يا لها من خسارة
عــلوم كأمثال البحار تـلاطمت <> و أعــماله في جنبها مثل قطرة


Saya heran kepada orang yang suka memberi nasehat ke orang lain,
akan tetapi sesungguhnya ia
lebih layak dari orang lain untuk mengikuti nasehatnya itu.
Ia bisanya hanya berkata tanpa mampu berbuat dan kalaupun ia berbuat
justru bertentangan dengan ilmunya, duh betapa ruginya ia.
Ilmunya bak seperti lautan bergelombang,
akan tetapi amal disampingnya bak seperti tetesan air.

[Ad-Durru Al-Mandhum, hal. 49]

Antara fiqih dan tasawuf

Mutiara syair Al-Imam Asy-Syafi'i


فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا <> فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى <> وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح


Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan
juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-
benar ingin memberikan nasehat padamu.
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tak mau menjalani
tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan lezatnya takwa.
Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tak mau
mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

ANTARA KITA DAN RASULULLAH SAW.

Antara kita & Rasulullah

Oleh : Dedi Suardi

Ini Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari pernah melukiskan sosok Rasulullah sebagai berikut :

Nabi Muhammad tingginya sedang-sedang saja, agak kurus, namun bahunya lebar, berdada bidang, bertulang dan berotot kokoh. Rambutnya terurai hampir ke pundaknya, berwarna hitam pekat dan sedikit ikal. Meskipun lanjut usianya, beliau cuma memiliki kira-kira 20 lembar uban saja, itu pun barangkali karena beban yang beliau emban saat menerima "wahyu Allah". Wajahnya yang jernih berbentuk bulat telur, agak memerah kekuning-kuningan. Alisnya melengkung panjang, yang mendebarkan setiap yang memandang. Bola matanya yang hitam bundar terbingkai bulu-bulu tebal dan panjang, tampak bersinar cemerlang. Nabi suci berhidung mancung namun estetis, giginya selalu diurus rajin berderet rapi, seputih mutiara. Wajahnya penuh janggut sehingga tampak jantan. Kulitnya lembut dan bersih, berwarna campuran merah-putih. Tangannya halus laksana sutra, nyaris melebihi tangan seorang gadis. Langkahnya cepat dan luwes, namun berat, bagai makhluk yang bergerak dari tempat tinggi ke tempat rendah. Andai menengokkan wajahnya, beliau juga membalikkan seluruh tubuhnya. Segenap gerak-gerik dan kehadirannya terpuji dan mengandung kharisma. Ekspresinya halus kesendu-senduan. Dan tawanya lebih jarang ketimbang senyumnya yang ramah.

Para pejuang kebenaran yang sejati!. Barangkali tak kurang di antara kita secara fisik yang bersosok mirip-mirip Rasulullah. Namun sayang sejuta sayang, Rasulullah tawanya lebih jarang ketimbang senyum ramahnya, sebaliknya kita bahkan sering terlampau banyak tertawa cekakakan kolokan, sambil malas memberikan senyum ramah terhadap orang lain, disebabkan oleh sifat sombong dan takabur.

Selanjutnya Rasulullah dilukiskan bahwa meskipun telah memiliki kekuasaan penuh di negerinya, dihormati oleh segala lapisan masyarakat, makan-minumnya, perabot rumah tangganya, bahkan segenap kebiasaan hidupnya sungguh amatlah sederhana. Namun sebaliknya, kita baru saja memiliki kekuasaan secuil, hidup sudah ingin mewah, makan-minumnya ingin yang mahal-mahal, cara hidup disulap menjadi ala Minak Jinggo. Feodalisme kedodoran, ditata secara jor-joran.

Dari sejarah Islam yang tak terselewengkan, tersimak bahwa Rasulullah merupakan pelindung yang amat dipercaya oleh segenap umat yang dilindunginya. Bedanya dengan kita, tidak jarang kita ini sok melindungi rakyat, padahal kenyataannnya sebaliknya, memeras rakyat secara halus, demi kejayaan dunia yang sementara.

Rasulullah merupakan pribadi yang anggun dan amat pendiam. Namun, andai beliau berkata, tekanannya pasti dan jujur sehingga melontarkan wibawa terhadap siapa yang mendengarnya. Sebaliknya, kita-kita ini kadang terlampau banyak mengoceh tanpa isi, yang menurut kata peribahasanya "tong kosong nyaring bunyinya !". Karena terlampau banyak ngoceh, boro-boro wibawa muncul, sebab isi ocehannya tak sama dengan wujud amalannya.

Keindahan pribadi Rasulullah semakin tampak pula karena sedikit makanan yang didapatnya senantiasa dibaginya kepada siapa pun yang kebetulan lewat dan membutuhkannya. Di luar rumah beliau, ada serambi yang senantiasa dipenuhi oleh fakir-miskin yang sepenuhnya hidup dari welas-asih beliau. Namun sayang, sebaliknya kita yang penuh makanan bru di juru-bro di panto, terkadang lupa kepada sang fakir yang lapar. Boro-boro membikin serambi bagi fakir-miskin, didekati orang yang berpakaian compang-camping saja, standing kita terasa anjlok ke comberan. Duit receh bagian para manusia papa lebih asyik dibelanjakan ice cream yang segar lezat ketimbang digusur hidup tak subur.

Santapan Rasulullah sehari-hari sekedar kurma dan air atau roti tawar. Madu dan susu merupakan minuman yang disukainya, namun amat jarang ternikmati (oleh beliau) karena dianggap mewah. Sebaliknya, kita terkadang uring-uringan ngambek andai makan tak ada lauk-pauknya yang enak, kendati penghasilan teramat minim. Akhirnya yang melanda kita-kita ini "lebih besar pasak daripada tiang", segala penyakit nemplok di badan gara-gara utang bergudang-gudang.

Selama hidupnya, Rasulullah hampir tak pernah memukul siapa pun. Ucapan yang paling kasar yang pernah terlontar dari mulut beliau ialah "semoga dahinya berlumuran lumpur". Tatkala diminta untuk mengutuk seseorang, beliau bahkan menjawab, "Aku diutus bukanlah untuk mengutuk seseorang, namun justru untuk mendoakan umat manusia." Sebaliknya pukul-memukul bagi kita merupakan "pekerjaan tangan" sehari-hari, terutama memukul anak. Ucap sumpah Nabi yang dirasanya paling kasar, bahkan sebaliknya bagi kita itulah yang dirasakan paling halus. Sebelum mengucapkan kata "bedebah", "setan", atau "kunyuk", rasanya sumpah-serapah kita terhadap orang lain belumlah afdol.

Terhadap orang-orang besar, Rasulullah bersikap sopan. Dan pula terhadap si kecil, keramah-tamahannya teramat mulia. Sebaliknya, kita terkadang cuman sopan dan hormat terhadap orang-orang besar karena butuh akan koneksinya. Namun terhadap si kecil yang tidak dibutuhkan, persetan penghormatan! .

Para pejuang kebenaran yang sejati!. Nabi Besar Muhammad Rasulullah senantiasa besar perhatiannya terhadap alam ini, yang tampak maupun yang tidak tampak, kendati beliau tunaaksara. Sebaliknya, kita yang pinter baca, gara-gara waktu cuma dihabiskan guna menumpuk-numpuk harta, alam tak terperhatikan sejengkal pun, tafakur menjadi tumpul, syukur menjadi kufur!.

Selanjutnya, meskipun Rasulullah telah berhasil menguasai jazirah Arab, sepatu atau gamisnya yang sobek, masih saja dijahitnya sendiri, memerah susu sendiri, menyalakan perapiannya juga sendiri. Kita terkadang sebaliknya, baru menjadi penguasa yang sedeng-sedeng saja, pembantu minta lusinan. Segalanya pakai pembantu, cuma cebok saja yang tidak. Kita, sobek sepatu sedikit, lempar ke tempat sampah, takut kehilangan prestise diri. Malu palsu semarak di kalbu!.

Bila melakukan perjalanan jauh, beliau membagi suapan dengan pembantunya. Kita juga sering membagi, namun yang kita bagi adalah perbedaan. Andai kita menikmati goreng ayam kalkun, pembantu mah cukup disodori ikan asin saja plus sambel oncom!.

Muhammad Rasulullah amat ketat dengan dietnya lewat berpuasa penuh kerelaan. Sebaliknya kita, diet dilaksanakan karena penyakit meraja-lela. Jadi, diet kita adalah diet yang terpaksa, bukan diet yang bernilai ibadah. Oleh sebab dietnya penuh ketidak-relaan, maka sumpeklah jiwa, nesu menggebu... membarakan angkara murka!.

Dalam kehidupan pribadinya, Rasulullah amat bijaksana. Diperlakukannya sahabat atau bukan, kaya atau miskin, kuat atau lemah, secara adil. Sebaliknya kita, termasuk saya, sering iseng membikin-bikin kebijaksanaan mendadak demi harga diri. Si kaya, kita beri tempat paling depan. Si miskin, biar gek-sor di lantai lembab. Si lemah biarlah mampus. Keadilan cuma buat segelintir orang!.

Kemenangan militer beliau tidak menyebabkan adigung-adiguna, rasa sombong atau ingin megah, karena niat perjuangannya adalah untuk kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu, Rasulullah tak suka mendapat semacam penghormatan protokoler yang dibikin-bikin. Namun, tak sedikit di antara kita yang sebaliknya, karena kita telah ketularan gila puji. Perjuangan kita terkadang diniati demi kedigjayaan kita sendiri, bukan niat demi kebenaran Tuhan. Oleh sebab kita sudah gila puji, maka penghormatan protokoler pun seakan menjadi idaman bagi setiap yang kuasa. Hidung mereka bangga, pundak ditarik ke langit, tatkala setiap orang berdiri keirei menyambut kedatangan kita dengan takzim, sehingga kita lupa akan rukuk dan sujud terhadap Yang Agung.

Kehidupan Rasulullah amatlah realistis. Beliau berkuasa bukanlah untuk mendandani kekuasaannya, melainkan untuk menyelamatkan umatnya dari kebodohan. Sebaliknya, terkadang kita tidak realistis, dikarenakan berkuasa cumalah demi segembung perut. Kekuasaan kita terkadang bukan demi menghilangkan kebodohan, melainkan sebaliknya untuk membodohi umat.

Rasulullah tinggal bersama istri-istrinya, yang dinikahinya dengan jiwa sosial itu, dalam sebuah pondok kecil yang amat sederhana beratap jerami. Tiap-tiap kamar dipisah dengan pohon-pohon palma yang direkat dengan lumpur. Sebaliknya, istri-istri kita yang denok demplon, yang dinikahi berdasarkan nafsu birahi belaka, disimpan di istana-istana mungil, di villa-villa mewah di tepi perbukitan, dengan masing-masing dihadiahi mobil-mobil luks yang mengkilap, demi saling tutup mulut, demi perdamaian antar bini.

Masih banyak sebenarnya kepribadian Rasulullah yang amat terpuji. Namun, satu lagi saja yang perlu disampaikan, yakni ketulusan dan keikhlasan dirinya dalam menganjurkan kebajikan dan kesederhanaan, yang telah dibuktikannya secara gamblang tatkala beliau wafat. Ternyata beliau tidak meninggalkan warisan harta secuil pun. Yang ditinggalkannya cumalah "warisan ketauhidan". Sayang, kita yang masih jauh dari ketakwaan ini melakukan sebaliknya. Berkat kerja menumpuk-numpuk kekayaan, warisan yang bergudang-gudang malah memancing perang campuh antar ahli waris. Rebutan warisan yang kerap terjadi, boro-boro menyimpulkan kuat talinya silaturrahmi, melainkan (menyebabkan) sakinah acak-acakan, saudara sekandung malah menjadi musuh bebunyutan!!

Mudah-mudahan saja perbedaan yang menyolok ini tak tampak di masa-masa mendatang. Ingat, harta adalah modalnya ibadah!!

[Disarikan dari Tafakur Di Galaksi Luhur, Dedi Suardi, hal. 175-179]