Selasa, 13 Juli 2010

Pemkot Bekasi segel gereja liar.

http://www.hidayatullah.com/berita/lokal/12242-pemkot-bekasi-segel-gereja-liar

Hidayatullah.com--Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi pada Ahad sore (20/6) menyegel sebuah rumah yang dijadikan gereja. Tindakan ini dilakukan setelah Pemkot mendapat desakan dari warga dan ormas-ormas Islam Bekasi yang merasa keberatan dengan keberadaan gereja liar tersebut.

Pemkot sendiri sudah melayangkan tiga surat peringatan untuk menghentikan aktivitas kegerejaan di rumah yang berlokasi di Jalan Puyuh Raya, Perumahan Pondok Timur Indah (PTI) Kota Bekasi, Jawa Barat ini.

Meski sudah mendapat surat peringatan, umat Kristiani yang menggunakan rumah tersebut untuk kebaktian tetap tak menggubris. Akhirnya setelah diberi tenggat waktu, penyegelan paksa dilakukan. Dalam aksi penyegelan tersebut, pihak Kepolisian Resort Metro Bekasi menurunkan 2 Satuan Setingkat Kompi (SSK), dibantu Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bekasi. Penyegelan ini langsung dipimpin Kapolres Metro Bekasi AKBP Imam Sugiono.

Imam Sugiono memaparkan bahwa sebenarnya pihak Pemkot sudah menyediakan lahan pengganti untuk mereka mendirikan gereja.

”Lokasinya ada di Pedurenan. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari Perumahan PTI. Tapi mereka tetap menolak,” jelas Imam.

Penyegelan ini sempat diwarnai teriakan-teriakan mencela dari jemaat gereja liar tersebut. Namun begitu penyegelan berlangsung tertib. Sebelum aksi penyegelan sempat terjadi negoisasi antara pihak kepolisian dengan para jemaat. Negoisasi berlangsung sekitar setengah jam.

Membantah


Sementara itu, Pendeta Luspida Simanjuntak, pimpinan jemaat, mengaku tak menerima surat rencana penyegelan dari Pemkot Bekasi. ”Surat itu belum kami terima. Memang kami sudah terima tiga surat sebelumnya,” kata Luspida.

Lupsida membantah bahwa rumah yang selama ini digunakan untuk kebaktian bukanlah gereja yang selama ini dianggap warga sekitar.”Ini bukan gereja. Ini adalah rumah yang kami gunakan untuk ibadah. Sudah empat tahun kami gunakan ini,” jelasnya.

Luspida mengaku sempat mengurus proses pendirian gereja di lokasi ini. Namun, Pemkot tak memberikan izin. Padahal, kata Luspida, saat ini jemaatnya sudah mencapai 1500 orang.

”Dengan jumlah jemaat yang sebanyak ini mestinya Pemkot memberikan izin.”

Ditanya tentang langkah hukum yang akan ditempuh para jamaat dalam menyikapi penyegelan ini, Luspida menjawab tidak tahu. ”Kita tunggu saja nanti.”

Satu jam sebelum penyegelan berlangsung hidayatullah.com sempat menyambangi rumah yang dijadikan gereja tersebut. Di dalam rumah itu terdapat sebuah mimbar dan bangku kayu panjang untuk para jemaat. Dinding-dinding rumah ini juga terpasang lukisan, foto, gambar yang bernuansa Kristen. Di sisi sebelah kanan terdapat semacam panji yang bertuliskan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Taman Mini. Puluhan jemaat terlihat berjaga-jaga. Kalau dilihat interiornya rumah ini tak jauh berbeda dengan gereja.

"Loh ini bukan gereja! Tidak ada warga yang tersulut," bantah Luspida kepada hidayatullah.com.

Aksi penyegelan ini disaksikan langsung oleh ormas-ormas Islam Bekasi. Agar tak terjadi bentrok, oleh pihak kepolisian umat Islam hanya diperbolehkan menyaksikan dari jarak sekitar 200 meter dari lokasi. Umat Islam merasa lega dengan aksi yang dilakukan Pemkot Bekasi ini. Kasus ini sudah berlangsung berbulan-bulan. [syaf/hidayatullah.com]

Senin, 19 April 2010

Haul Habib Abdul Qadir BilFaqih Ra 2010.

Assalamaualaikum wr wb,

INFORMASI.

Kepada Kaum Muslimin/mat wabilkhusus Alumni Darul Hadist Al Faqihhiyyah Malang yanga ada di Bekasi,Ja-Bar.

Bahwa Haul Al Imamain Al Marhumain Al Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bil Faqih Al Alawy Ra. akan dilaksanakan pada :

Hari : Minggu
Tanggal : 13 Juni 2010 M Atau 30 Jumadil akhir 1431 H.

Bagi yang ingin berangkat bersama dengan menggunakan Bus AC,kami Panitia Napaktilas Para Wali Se-Jatim bermaksud mengajak jamaah bergabung berangkat bersama dengan menggunakan Bus AC dari Bekasi.Untuk keberangkatan pada :

Hari : Jum’at (Ba’da Shalat Jum’at)
Tanggal : 11 Juni 2010 / 28 Jumadil akhir 1431 H.
Tempat : akan ditentukan kemudian.

Dengan Rincian biaya,sbb :

* Orang dewasa : Rp. 450.00 / orang
* Anal max 7 thn : Rp. 300.000 / anak
* Diatas 7 thn : dikenakan biaya orang Dewasa.

Fasilitas :
@. Mobil Bus AC
@. Snack dan makan 1 kali

Bagi yang berminat segera hubungi :

1. Ustad M Khazin SMQ telpon 08176428053/085813546438.
2. Ustad M Yasin telpon 081808664426.
3. Ustad M Aqib telpon 021-94306305

Demikian pemberitahuan kami,semoga dapat bermanfaat.Selamat bergabung dalam ziarah para Wali.

Nb. Pembayaran dapat dicicil selama 8 minggu mulai tanggal 11 April 2010.

Tertanda Muallim Ustad M Khazin SMQ.

Wassalamualaikum wr wb.


Rabu, 19 Agustus 2009

KELUARGA RASULULLAH.

JALAN CINTA ALHASAN WAL HUSAIN (JAWABAN UNTUK PERTANYAAN AKHI AHMAD YUSUF 0CTAMIDAKESRI)
Untuk anggota Kenapa Takut Bid'aH



Putra putri Rasulullah ada 7, 6 dari istri beliau yg pertama Sayidah Khadijah, dan 1 dari sahaya beliau, Mariah al Qibtiyah. Putra pertama Rasulullah adalah Sayyid Qasim,yg mana kemudian Rasulullah di kunyahi Abul Qasim, Sayid Qasim wafat pada usia 2 thn di makkah, kemudian yang ke 2 adalah Zainab, yang diperistri kemenakan Sayidah Khadijah, Abul Ash, mempunyai 2 Anak Ali (wafat balita) dan Umamah, putri ke 3 adalah Ruqayyah diperistri Sahabat Utsman bin Affan (wafat pada waktu perang badar tahun 2 H), putri ke 4 adalah Fatimah (wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah), putri ke 5 adalah Umi kaltsum (wafat tahun 9 H) juga diperisti Sahabat Utsman setelah wafatnya Sayidah Ruqayyah dan ke 6 adalah Sayid Abdullah, wafat usia balita. Adapun 1 dari yang dari sahaya beliau adalah Sayyid Ibrahim (lahir tahun 8 H dan wafat tahun 10 H, umurnya 16 bulan). Dari putra-putri beliau Yang menurunkan keturunan Hanyalah Sayidah Zainab dan Sayyidah Fatimah, Cucu Rasulullah yang bernama Umamah binti Zainab akhirnya pun di nikah oleh Sayyidina Ali selepas wafatnya Sayyidah Fatimah, tapi keturunanya tidak ada yang mencatat. Kesimpulanya, yang melestarikan nasab dan dzuriyyah Rasulullah hanyalah Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah yang melalui putra keduanya Sayid Hasan dan Sayid Husain. Lantas terjadi pengingkaran oleh sebagian kalangan bahwa keturunan dari Anak perempuan Itu tidak di anggap sebagai keturunan, karena budaya orang Arab adalah menisbatkan seseorang pada "rumpun" ayahnya, sehingga kalau ada yang berkata "saya dari keluarga Al- Fulani" maka artinya dia adalah keturunan si Fulan dengan garis laki-laki. pengingkaran ini sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena sangat bertentangan dalil-dalil Islam, baik dalil nash (teks) maupun dalil rasio sebagai berikut.
1 . Dalam Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 84, Allah menyebut beberapa Nabi keturunan Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa disebut sebagai salah satu dari mereka, maka ayat ini jelas menyimpulkan bahwa keturunan seorang perempuan juga termasuk "keturunan" atau cucu dari orang tua si perempuan. Karena Nabi Isa adalah keturunan seorang perempuan, dan Nabi Isa juga disebut sebagai Dzuriyah Nabi Ibrahim.
2. Dalam Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Humaid As-Sa'idi Rasulullah menyebut Ahlul-bayt dengan "dzurriyyah". Menurut bahasa Arab yang sebenarnya, dzurriyyah artinya "semua keturunan", baik yang bergaris laki-laki maupun perempuan. Untuk mengubah makna sebuah kalimat Rasulullah SAW dari arti sebenarnya harus ada dalil yang shahih, demikian pula untuk mengubah dari "yang umum" menjadi "kusus". Nah, selama tidak ada dalil shahih yang menyatakan bahwa dzurriyyah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam riwayat itu adalah khusus garis laki-laki, maka berarti semua keturunan beliau, baik dari garis laki-laki maupun perempuan, adalah Ahlul-bayt. Dan barang siapa yang membeda-bedakan antara yang bergaris laki-laki dan garis perempuan maka berarti ia telah "berkhianat" pada Rasulullah.
4. Pada waktu Putra terakhir Rasulullah dari Sayidah Khadijah yaitu Sayyid Abdullah wafat, berkatalah dedengkot Musyrikin makkah yaitu Al 'Ash bin Wa'il Assahmi : " Qod inqotho'a waladuhu fahuwa Abtar " telah terputus garis keturunanya dan dia (Muhammad) adalah orang yang Terputus (nasabnya). Hal itu langsung dibantah Oleh Allah dengan turunya Surat Al kautsar ayat 3, " Inna Syani'aka huwal abtar " sesungguhnya orang yang membencimu lah yang terputus. Ini membuktikan keturunan Rasulullah tidak terputus, dan membuktikan kedudukan Nasab dari garis laki-laki dan perempuan adalah sama, dan Rasulullah datang menentang budaya Arab yang hanya memperhitungkan keturunan laki-laki.
Dari Imam Hasan dan Imam Husain ibnani Fatimah binti Rasulullah inilah dzuriyah Rasulullah berkembang, sejarah mencatat pada permulaan dinasti Umayyah, kalangan Ahlul Bayt keturunan Imam Hasan dan Imam Husain di buru dan dibunuh oleh Khalifah yang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Muawiyah, hikmahnya, mereka berpencar ke seantero pelosok negeri, dari kalangan dzuriyah Imam Hasan sebagian mengasingkan diri ke Mesir, Maghribi, Syams dsb, dari kalangan Dzuriyah Imam Husain yang hanya meninggalkan satu putra ketika beliau syahid di karbala yaitu Assajad Ali Zainal Abidin, keturunanya tersebar di Bashrah, Kufah, Yordania, hingga akhirnya generasi berikutnya yang di pimpin Imam Ahmad bin Isa Arrumi bin Muhammad Annagib bin Ali Al Uraidli bin Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah Azzahra, Sayid Ahmad Almuhajir bin Isa Seorang yang SUNNI DAN BERMADZHAB SYAFI'I beliau Hijrah dari Bashrah Irak ke Hadhramaut Yaman karena adanya Fitnah Qaramithah sekte pecahan Syi'ah yang terkenal Kejam dan sadis. Dari Hadhramaut ini kemudian banyak yang menjadi pedagang antar negara, diantaranya Sayid Abdul Malik bin Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Kholi' Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad Annagib bin Ali Al Uraidli bin Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Azzahra', hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat India, di India Beliau menikah dengan Putri Raja dan berjuluk Azmatkhan, kemudian dari keturunan beliau ada yang berdagang ke Indonesia dan menjadi Pendakwah tangguh di Nusantara yang di kenal dengan walisongo. sumber:Jala'ul Afham Syarah Aqidatul Awam, Jalan Nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, Artikel Buya Hamka mengenai Kiprah dakwah Alawiyin

Izinkan Aku Membelamu Yaa Rasulullah..

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

Selasa, 04 Agustus 2009

Senin, 29 Juni 2009

SELALU BERSHALAWAT.

Selalu bershalawat

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberinya rahmat kepadanya sepuluh kali."

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali ra di dalam kitabnya, Ihya, mengemukakan hadis dari Abdul Wahid bin Zaid yang menuturkan sebagai berikut:

Pada suatu hari, saya bersama seorang teman keluar meninggalkan rumah untuk suatu keperluan. Teman saya tidak henti-hentinya mengucapkan shalawat, baik di saat sedang berdiri, duduk, bergerak maupun diam. Ketika kutanyakan hal itu kepadanya, ia menjawab:

Anda saya beritahu soal itu. Dahulu saya bersama ayah pergi ke Makkah untuk pertama kali. Dalam perjalanan berangkat, saya ketiduran di suatu tempat. Dalam mimpi saya melihat seorang datang mendekatiku, lalu berkata, "Bangunlah, Allah telah mewafatkan ayahmu dalam keadaan wajahnya kehitam-hitaman. !" Saya bangun dalam keadaan takut dan bingung. Ayah kuhampiri dan kubuka kain penutup mukanya. Ternyata benar, ia telah menjadi mayit dan wajahnya tampak kehitam-hitaman. Saya sungguh ketakutan sekali.

Beberapa saat kemudian, dalam keadaan bingung dan sedih, saya tertidur kembali. Kali ini saya mimpi lagi melihat empat orang lelaki berkulit hitam, masing-masing memegang tongkat besi. Tiba-tiba datang seorang lelaki berwajah rupawan berpakaian warna hijau. Kepada orang-orang yang berkulit hitam itu ia berkata, "Menyingkirlah kalian semua!." Lelaki rupawan itu lalu mengusap-usap muka ayahku dengan tangannya, lalu mendekatiku seraya berkata, "Hai, bangunlah... Allah telah memutihkan muka ayahmu." Aku bertanya, "Anda siapa?." Ia menjawab, "Aku Muhammad."

Ketika bangun, saya segera menghampiri ayah dan kubuka kain penutup mukanya, dan ternyata wajahnya tampak keputih-putihan. Sejak itu saya tidak pernah meninggalkan shalawat kepada Rasulullah.

[Disarikan dari Mutiara Zikir & Doa, Al-Habib Alwi bin Ahmad Alhaddad, hal. 111, cetakan I, penerbit Pustaka Hidayah